Rabu, 22 Juni 2011

Manajemen manufaktur dan jasa

Teori Lokasi (1)

Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka, serta hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain.

Secara umum, pemilihan lokasi (Hoover dan Giarratani, 2007) ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain :

  1. Bahan baku lokal (local input);
  2. Permintaan lokal (local demand);
  3. Bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input) dan;
  4. Permintaan luar (outside demand).

Von Thunen (1826) mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar:

  1. Perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi).
  2. Tingkat sewa lahan paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar.
  3. Menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan.
  4. Berdasarkan perbandingan (selisih) jenis produksi antara harga jual dengan biaya produksi untuk membayar sewa lahan (makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar).

· Weber (1909) menganalisis tentang lokasi kegiatan industri. Menurut teorinya pemilihan lokasi industri didasarkan atas: prinsip minimisasi biaya; bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum. Artinya tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum.

Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, sbb:

1. Biaya transportasi;

2. Upah tenaga kerja;

3. Kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi.

Ahli-ahli lain tentang penentuan lokasi, sbb:

· Richardson (1969) mengemukakan bahwa aktivitas ekonomi atau perusahaan cenderung untuk berlokasi pada pusat kegiatan sebagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam keputusan yang diambil guna meminimumkan risiko. Dalam hal ini, baik kenyamanan (amenity) maupun keuntungan aglomerasi merupakan faktor penentu lokasi yang penting, yang menjadi daya tarik lokasi karena aglomerasi bagaimanapun juga menghasilkan konsentrasi industri dan aktivitas lainnya.

  • Teori Lokasi dari August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar), berbeda dengan Weber yang melihat persoalan dari sisi penawaran (produksi). Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau di dekat pasar.
  • Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah. Model Christaller ini merupakan suatu sistem geometri, di mana angka 3 yang diterapkan secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model ini disebut sistem K = 3. Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.
  • D.M. Smith memperkenalkan teori lokasi memaksimumkan laba dengan menjelaskan konsep average cost (biaya rata-rata) dan average revenue (penerimaan rata-rata) yang terkait dengan lokasi. Dengan asumsi jumlah produksi adalah sama maka dapat dibuat kurva biaya rata-rata (per unit produksi) yang bervariasi dengan lokasi. Selisih antara average revenue dikurangi average cost adalah tertinggi maka itulah lokasi yang memberikan keuntungan maksimal.
  • McGrone (1969) berpendapat bahwa teori lokasi dengan tujuan memaksimumkan keuntungan sulit ditangani dalam keadaan ketidakpastian yang tinggi dan dalam analisis dinamik. Ketidaksempurnaan pengetahuan dan ketidakpastian biaya dan pendapatan di masa depan pada tiap lokasi, biaya relokasi yang tinggi, preferensi personal, dan pertimbangan lain membuat model maksimisasi keuntungan lokasi sulit dioperasikan.
  • Menurut Isard (1956), masalah lokasi merupakan penyeimbangan antara biaya dengan pendapatan yang dihadapkan pada suatu situasi ketidakpastian yang berbeda-beda. Isard (1956) menekankan pada faktor-faktor jarak, aksesibilitas, dan keuntungan aglomerasi sebagai hal yang utama dalam pengambilan keputusan lokasi.
  • Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat besarnya daya tarik dari suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. Model ini sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut. Model ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang optimal.

Kesimpulan Teori Lokasi :

Teori lokasi berguna untuk mencari lokasi yang ekonomis dan memungkinkan dimana keuntungan maksimal dapat dicapai.

Tidak ada sebuah teori tunggal yang bisa menetapkan di mana lokasi suatu kegiatan produksi (industri) itu terbaik dipilih. Untuk menetapkan lokasi suatu industri (skala besar) secara komprehensif diperlukan gabungan dari berbagai pengetahuan dan disiplin. Berbagai faktor yang ikut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi, antara lain ketersediaan bahan baku, upah buruh, jaminan keamanan, fasilitas penunjang, daya serap pasar lokal, dan aksesibilitas dari tempat produksi ke wilayah pemasaran yang dituju (terutama aksesibilitas pemasaran ke luar negeri), stabilitas politik suatu negara dan, kebijakan daerah (peraturan daerah), dsb.

Jadi, pada perinsipnya ada tiga faktor sebagai bahan pertimbangan untuk memilih lokasi cocok, yaitu:

1. Bahan baku

2. Pasar

3. Ongkos transportasi

4. Lingkungan

Pertimbangan bahan baku, seperti mudahnya rusak bahan baku, ukuran berat, volume, secara langsung sangat berpengaruh terhadap biaya transportasi dan proses produksinya. Usaha produksi yang menggunakan bahan baku yang mudah rusak, seperti: sayuran, ikan, susu, dll akan lebih menguntungkan bila memilih lokasi dekat bahan baku dari pada usaha produksi yang menggunakan bahan baku tahan lama, seperti: kacang kedelai untuk pembuatan tempe misalnya, mengingat sifat tempe yang cepat rusak maka lebih tepat bila memilih lokasi dekat pasar meskipun menyangkut kedelai mungkin membutuhkan biaya transportasi yang relative lebih tinggi. Dengan mempertimbangkan sifat mudah rusaknya bahan baku atau hasil produksi dan biaya transportasinya. Selanjutnya tinggal memilih di mana tempat yang paling sesuai dan menguntungkan, apakah dekat jalan (pantai) yang ramai, dekat jalan raya untuk pembuangan limbah yang telah di olah, atau dekat sumber air melimpah untuk bahan pembantu yang sangat di butuhkan dalam usaha dimaksud.

Contoh lain, mendirikan perusahaan dagang seperti toko, distributor atau perwakilan (agen), akan lebih menguntungkan untuk memilih lokasi dekat pasar, baik pasar secara fisik maupun pasar dalam arti konsumen.

Jenis dan sifat industri setempat, jumlah dan tingkat sosial penduduk, kemajuan kota, kebiasaan dan kesukaan berbelanja, dan persaingan merupakan pertimbangan lain yang diperlukan untuk memilih lokasi usaha perdagangan.

Pertimbangan faktor lingkungan setempat ini cukup banyak, seperti kemungkinan pengadaan tenaga kerja yang murah dan mudah, pengaruh usaha terhadap lingkungan, jumlah dan tingkat sosial penduduk, adat, istiadat, tingkat harga tanah, dan tersedianya bahan pembantu juga penting dipertimbangkan ini. Salah satu contoh pengolahan yang membutuhkan banyak air seperti pembuatan sari buah, penyamakan kulit, pengolahan ikan dan sebagainya harus memperhitungkan apakah lingkungan mampu menyediakan sumber air yang memadai dalam jumlah maupun mutunya. Disamping itu, perlu dipertimbangkan pengaruh limbah yang dibuang agar tidak akan merusak lingkungan.


Hal-hal lain :

1. Fasilitas yang disediakan Pemerintah seperti listrik, telepon, fasilitas jalan, prioritas pemerintah atau keringanan-keringangan dan bimbingan yang kerap kali dikaitkan dengan proyek-proyek Pemerintah di suatu daerah tertentu.

2. Kebutuhan-kebutuhan bahan bangunan seperti semen, batu, pasir dan sebagainya merupakan pertimbangan lain yang berkitan dengan pembangunan gedung.

3. Peraturan-peraturan pemerintah setempat perlu pula dipertimbangkan dan wajib dipenuhi.

4. Faktor iklim, panas udara, dan kelembagaan yang berpengaruh terhadap kondisi kerja alat, mesin maupun manusia dapat juga menjadi bahan pertimbangan.

Akan ditambah …………..

Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi (locational triangle) untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM), sedangkan biaya tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar